PSBB DKI Jakarta Bisa Berhasil Turunkan Laju Penularan COVID-19

PSBB

PSBB Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan akhirnya menarik rem kembali dengan memberlakukan Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB) karena angka kematian di Jakarta terus meningkat dan kapasitas tempat tidur isolasi dan ruang di ICU di rumah sakit untuk pasien COVID-19 semakin menipis.

Mulai Senin 14 September hingga dua pekan kedepan, tempat pendidikan, wisata, dan hiburan di Jakarta ditutup. Seminar, konferensi dan resepsi nikah dibatasi, tapi mal dan pasar tetap diizinkan beroperasi dengan kapasitas pengunjung hanya boleh separuh.

Sebelumnya, pembatasan serupa diberlakukan pada 10 April hingga 4 Juni. Apakah pembatasan kali ini akan benar-benar mampu mencegah lumpuhnya rumah sakit dan memperlambat laju penularan COVID-19 di Ibu Kota? Kami mewawancarai dua peneliti surveilans penyakit dan manajemen rumah sakit.

Pengendalian virus makin sulit karena penyebarannya telah luas Iqbal RF Elyazar, Peneliti Surveilans Penyakit, Eijkman Oxford Clinical Research Unit. Berhasil atau tidaknya Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB) di Jakarta kali ini untuk memperlambat laju penularan dipengaruhi oleh setidaknya lima hal.

  • Seberapa besar mobilitas orang antarwilayah dapat dikurangi.
  • Pengaturan transportasi umum di Ibu Kota dan antar kota yang menghubungkan Jakarta dan kota penyangga.
  • Memaksimalkan pemakaian masker dan jaga jarak fisik di ruang publik,
  • Optimalisasi pelacakan dan memaksimalkan pengetesan.
  • Ketegasan dalam eksekusi PSBB dan pemberian sanksi yang memberi efek jera pada para pelanggar.

Idealnya adalah mayoritas orang (di antaranya ada orang yang sudah terinfeksi) ditarik ke dalam rumah, maka diharapkan rantai penularan virus corona di luar rumah akan berkurang. Misalnya, dengan pembatasan setidaknya satu bulan, sebagian besar orang-orang yang sudah terlanjur terinfeksi COVID-19 akan terisolasi di rumah, fasilitas karantina atau di rumah sakit sampai virus dalam tubuh melemah setelah diperangi oleh antibodi.

Bercermin Dari PSBB

Bercermin dari PSBB pada awal pandemi (April-Juni), masih banyak orang yang keluar rumah baik untuk alasan pekerjaan maupun keperluan lainnya. Orang-orang ini mungkin membawa virus tanpa ada gejala atau mungkin akan tertular dari orang lain.

Karena itu, jika PSBB kali ini bisa menurunkan mobilitas orang lebih besar dibandingkan level mobilitas saat PSBB April-Juni, ditambahkan dengan patuh pakai masker 100% dan jaga jarak, maka kebijakan ini mungkin akan menurunkan laju penularan di masyarakat. Jika tidak, maka akan sulit menghambat laju penularan.

Pada April, misalnya, tingkat kerumunan seperti di stasiun atau terminal lebih sepi 69% dibanding hari biasa. Begitu juga kerumunan di tempat umum dan rekreasi (anjlok 63%), pusat perbelanjaan (turun 34%), taman (turun 61%) dan area bisnis juga berkurang 43%. Sebaliknya, level kerumunan di permukiman meningkat 22%, itu artinya jumlah orang yang berdiam di rumah meningkat.

Transportasi umum di dalam kota Jakarta dan penghubung Jakarta-kota penyangga juga harus dibatasi agar efek pembatasan optimal. Pekan ini, MRT, kereta komuter, LRT dan bus Transjakarta mengurangi kapasitas hingga separuh dari biasanya untuk mendukung kebijakan pembatasan sosial.

Sampai sejauh ini, kota-kota penyangga seperti Kota Depok, dan Kota Bogor memberlakukan kebijakan pembatasan level rukun warga. Sementara Kabupaten Bogor, Tangerang, dan Bekasi masih melanjutkan kebijakan PSBB transisi. Padahal, penduduk di wilayah tersebut yang pulang pergi ke Jakarta untuk bekerja.

Penyebaran Virus Saat PSBB

Dalam kondisi seperti ini pemakaian masker 100% dan jaga jarak fisik di ruang publik menjadi sangat penting untuk mengurangi penularan virus antar-orang. Denda bagi orang-orang yang tidak pakai masker harus ditegakkan.

Selama PSBB, pelacakan orang-orang yang pernah berinteraksi dengan orang yang positif COVID-19 sangat penting agar orang-orang yang diduga telah terinfeksi tidak menyebarkan virus di komunitas yang lebih kecil seperti rukun tetangga dan keluarga. Petugas kesehatan harus mengoptimalkan pelacakan saat orang-orang sedang di rumah.

Langkah ini penting karena kini dalam dua pekan terakhir, sekitar 40% dari total kasus di Jakarta disumbang oleh kluster keluarga. Jika yang positif tidak segera ditemukan dan diisolasi, mereka akan menularkan pada orang orang di dalam keluarga.

Kini pemerintah DKI Jakarta mewajibkan semua pasien COVID baik ringan tanpa gejala maupun sedang diisolasi di tempat yang telah ditentukan pemerintah seperti Wisma Atlet Kemayoran. Langkah ini untuk mengurangi penyebaran virus antar anggota keluarga.

Sanksi atas pelanggaran kebijakan PSBB juga menjadi kunci untuk menurunkan laju penularan. Karena mal masih diperbolehkan beroperasi dengan kapasitas pengunjung separuhnya, pengawasan nya harus lebih ketat. Begitu juga dengan 11 sektor penting yang boleh beroperasi dengan protokol kesehatan dan kapasitas 50%. Tanpa ada sanksi yang tegas bagi para pelanggar, sulit berharap kebijakan PSBB ini akan menurunkan laju penularan di masyarakat.

Ubah Sistem Rujukan Pasien Atau Tambah Rumah Sakit Darurat

Salah satu alasan di balik kebijakan pengetatan PSSB kali ini adalah tempat tidur isolasi di rumah sakit makin sedikit seiring dengan semakin banyaknya pasien COVID yang dikirim ke rumah sakit. Kunci untuk mencegah kehabisan ruang isolasi adalah menambah daya tampung rumah sakit atau mengurangi pasien masuk dengan cara menurunkan laju penularan di masyarakat dan menata sistem rujukan.

Masalahnya, walau kapasitas ruang isolasi ditambah 20% mulai bulan ini, kapasitas tersebut akan penuh pada Oktober karena angka penularan di masyarakat masih tinggi. Kini ruang isolasi tersedia 4.053 unit, yang sudah terisi 77%. Jika ditambah 20% sehingga menjadi 4.807 unit, tetap akan penuh juga pada Oktober.

Untuk mencegah hal itu terjadi, pemerintah pusat harus mengubah sistem rujukan untuk pasien COVID-19. Selama ini, rujukan pasien lebih didasarkan pada lokasi pasien ke rumah sakit terdekat, bukan berbasis kapasitas dan kompetensi rumah sakit dalam merawat pasien. Dampaknya, pasien menumpuk di rumah sakit tertentu, sementara rumah sakit lain mungkin masih tersedia ruang untuk pasien.

Selama ini pemerintah hanya punya kendali langsung atas rumah sakit milik daerahnya. Masalah besarnya lainnya adalah tidak ada sistem informasi online. Terintegrasi yang memberitahukan kapasitas semua sakit di Jakarta maupun di berbagai daerah. Sistem informasi tiket terintegrasi penerbangan, yang dikelola perusahaan penyedia tiket online, jauh lebih baik dibanding sistem informasi tempat tidur di rumah sakit saat ini.

Perubahan Selama Melakukan PSBB

Pemerintah perlu menyusun sistem informasi online yang terintegrasi antar seluruh rumah sakit untuk mengetahui secara akurat kapasitas rumah sakit baik rumah sakit milik pemerintah maupun swasta.

Selain itu, guna mengatasi masalah itu dalam jangka pendek, pemerintah DKI Jakarta perlu bekerja sama dengan pemerintah Jawa Barat. Jika kapasitas ruang isolasi rumah sakit di Ibu Kota benar-benar penuh. Jika hal itu tidak memungkinkan, maka rumah sakit darurat di lapangan. Atau pemanfaatan gedung-gedung milik pemerintah seperti Wisma Atlet dan hotel harus mulai disiapkan.

Untuk mencegah laju penularan, selain pembatasan sosial skala besar level provinsi. Pemerintah Jakarta mestinya bisa memanfaatkan data pelacakan kasus yang sudah dikumpulkan untuk mencegah pergerakan orang. Di level yang lebih kecil seperti kecamatan atau kawasan tertentu yang diketahui tingkat penularannya tinggi.

Sebenarnya dengan kondisi penularan yang begitu tinggi. Akan lebih efektif jika pembatasan juga dilakukan pada level yang lebih kecil seperti kecamatan atau kawasan tertentu yang diketahui merah. Jika laju penularan di level komunitas terkecil bisa diperlambat, maka kedatangan pasien ke rumah sakit bisa dikurangi.

Analisis Penyebab Masyarakat Tidak Patuh Pada Protokol COVID-19

Masyarakat

Masyarakat Tagar IndonesiaTerserah belakangan sering muncul dalam perbincangan publik di media sosial sebagai sarana penyaluran rasa frustasi dan kekecewaan masyarakat terhadap penanganan wabah COVID-19 di Indonesia.

Pengguna sosial menyertakan tagar ini dalam menggambarkan ketidakpedulian masyarakat terhadap upaya pembatasan jarak dan kebijakan dari pemerintah yang tidak konsisten dalam penanganan pandemi.

Berbagai bentuk tindakan berisiko masyarakat banyak diberitakan seperti kumpul-kumpul di penutupan gerai McDonald’s di Jakarta, penumpang pesawat membludak hingga pasien COVID-19 yang menolak dirawat bahkan berusaha kabur dari rumah sakit.

Sementara laju jumlah kasus positif terus meningkat dan kematian tenaga medis yang tinggi. Ini terjadi di atas kebijakan-kebijakan pemerintah yang meragukan, bahkan tidak konsisten.

Ilmu psikologi sosial kesehatan menjelaskan bahwa ketidakpatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan sebagian besar terjadi karena kurangnya pemahaman mereka terhadap bahaya penyakit dan manfaat penanganan dan besarnya hambatan dalam akses kesehatan. Pemerintah punya andil besar di sini.

Landasan Perilaku Masyarakat

Ahli-ahli psikologi sosial telah mengembangkan bermacam model untuk menjelaskan dan memperkirakan perilaku-perilaku terkait kesehatan, terutama dalam menggunakan sarana kesehatan.

Pada 1950-an, beberapa psikolog sosial di Amerika Serikat (AS) mulai mengembangkan Health Belief Model (HBM) yang masih digunakan secara luas dalam riset perilaku kesehatan hingga kini.

HBM dapat dilihat sebagai perpaduan pendekatan filosofis, medis, dan psikologis untuk menjelaskan kepatuhan atau ketidakpatuhan masyarakat dalam melakukan upaya kesehatan. Model ini dikembangkan untuk mengeksplorasi berbagai perilaku kesehatan baik jangka panjang maupun jangka pendek.

6 Komponen Yang Ada Di HBM

  1. Persepsi kerentanan (perceived susceptibility), yaitu bagaimana seseorang memiliki persepsi atau melihat kerentanan dirinya terhadap penyakit.
  2. Keparahan (perceived severity), yaitu persepsi individu terhadap seberapa serius atau parah suatu penyakit.
  3. Manfaat (perceived benefit), yaitu persepsi individu akan keuntungan yang ia dapat jika melakukan upaya kesehatan.
  4. Persepsi hambatan (perceived barriers), yaitu persepsi individu akan adanya hambatan dalam melakukan upaya kesehatan.
  5. Petunjuk bertindak (cues to action), yaitu adanya kejadian atau dorongan untuk melakukan upaya kesehatan yang berasal dari kesadaran diri atau dorongan orang lain; misalnya iklan kesehatan atau nasihat dari orang lain.
  6. Kemampuan diri (self-efficacy), yaitu persepsi individu tentang kemampuan yang dimilikinya. Seseorang yang menginginkan perubahan dalam kesehatannya dan merasa mampu, akan melakukan hal-hal yang diperlukan untuk mengubah perilaku kesehatannya; demikian pula sebaliknya.

Penjelasan Mengapa HBM Tidak Patuh Terhadap Protokol

HBM menjelaskan kenapa masyarakat tidak patuh terhadap protokol kesehatan pandemi COVID-19. Di satu sisi, masyarakat kurang memiliki pemahaman seberapa rentan mereka tertular COVID-19, seberapa parah penyakit ini, apa manfaat melakukan pencegahan, dan kurangnya petunjuk untuk bertindak.

Di sisi lain masyarakat menghadapi berbagai hambatan untuk mengakses pada fasilitas kesehatan. Kelima faktor tersebut akhirnya menyebabkan terjadinya salah persepsi terkait self-efficacy mereka tidak yakin akan kemampuan dan tindakannya.

Jika masyarakat memiliki persepsi yang baik terhadap kerentanan diri, bahaya penyakit, keuntungan dari upaya pencegahan yang dilakukan dan mendapat petunjuk bertindak serta minimalnya hambatan, maka self-efficacy dapat dibangun.

Keyakinan akan kemampuan dan kesanggupan seseorang untuk dapat menjalankan protokol kesehatan dapat ditumbuhkan dengan cara melihat pencapaian kesehatan yang ia lakukan pada masa lalu; melihat keberhasilan orang lain (jika orang lain bisa, maka saya pun bisa); bersikap tegas dengan diri sendiri dan menghilangkan sikap emosional dan menetapkan tujuan.

Sebagian Besar Ada Di Tangan Pemerintah

Pemerintah dengan segala upayanya masih belum optimal dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap bahaya wabah dan kemudahan akses kesehatan.

Dalam komunikasi terkait wabah, misalnya, pemerintah masih menggunakan istilah rumit dan hanya mudah dipahami masyarakat perkotaan terdidik yang berasal dari kelas menengah.

Pejabat pemerintah bahkan bisa mengeluarkan pernyataan berbeda-beda, padahal keadaan darurat membutuhkan komunikasi yang komprehensif dan konsisten.

Belum lagi keengganan pemerintah melaksanakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dengan sungguh-sungguh. Dalam hal akses, penduduk miskin mengalami kesulitan untuk mendapatkan tes COVID-19 dan menengah ke bawah menjadi lebih rentan.

Pemerintah hanya menyediakan tes gratis di rumah sakit bagi mereka yang pernah kontak dengan kasus positif. Atau mengunjungi daerah berisiko dan menunjukkan gejala klinis COVID-19. Padahal beberapa kasus terbukti tanpa gejala umum.

Sementara, masyarakat yang mampu dapat melakukan tes secara mandiri di rumah sakit dengan biaya yang cukup mahal.

Kepatuhan Masyarakat Kunci Keberhasilan

Pemerintah akhir-akhir ini gencar mengumandangkan pelonggaran pembatasan  dan telah mengeluarkan protokol untuk apa yang pemerintah disebut sebagai tatanan normal baru. Kepatuhan masyarakat menjadi semakin penting. Upaya membangun kesadaran masyarakat harus ditingkatkan dengan berbagai cara.

Di antaranya, pertama, dengan melakukan komunikasi yang lebih efektif hingga ke akar rumput. Melalui berbagai media dan metode yang sesuai dengan keragaman usia, pendidikan dan budaya masyarakat/kearifan lokal.

Kedua, kampanye yang lebih jelas dan terarah sehingga masyarakat memiliki kesamaan. Pandangan untuk melakukan upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit alih-alih sebagian patuh dan sebagian melanggar sehingga sia-sia semua upaya sia-sia.

Kampanye membangun optimisme Indonesia bisa menghadapi COVID-19 juga perlu diciptakan dan lebih kuat disosialisasikan.

Ketiga, mempermudah akses kesehatan dengan informasi yang jelas dan terus-menerus. Sehingga cepat melakukan tindakan pemeriksaan, pengobatan dan isolasi mandiri ketika terinfeksi. Keempat, kebijakan yang konsisten sehingga tidak membingungkan masyarakat.

Baca Juga : Penafsiran Masyarakat Warga Primitif Dalam Kemajuan Teknologi

Penafsiran Masyarakat Warga Primitif Dalam Kemajuan Teknologi

Warga

Warga Dalam komunitas kuno kemajuan teknologi serta ilmu wawasan belum bertumbuh dengan cara cepat, malahan sedang terbatas pada upaya menciptakan serta menciptakan materi santapan bagaikan pelampiasan keinginan hidup.

Perihal ini berimplikasi pada hasil penciptaan yang dapat dikatakan sedang kecil bila dibanding dengan warga modern. Biasanya warga kuno mencari materi santapan dengan metode mencari binatang sebab mereka belum memahami terdapatnya sistem ekonomi jual-beli ataupun tukar barang.

Rasa ketergantungan satu serupa lain sedang kokoh. Kepribadian dalam komunitas kuno nyaris tidak sempat terdapat. Komunitas kuno biasanya mempunyai badan yang terbatas, tidak lebih dari puluhan ataupun ratusan orang, mereka bertempat bermukim amat terasing serta jauh dari warga yang lain, faktornya sebab kondisi area yang terasing oleh alam serta lumayan susah buat dijangkau.

Warga kuno yang hidup terisolir dengan cara turun temurun, dapat ditentukan tidak hadapi pergantian semenjak nenek moyangnya hingga dikala ini. Mereka hadapi keterasingan dengan bumi luar, tidak memahami membaca serta menulis, uraian serta perspektif mereka berawal dari narasi- narasi lidah yang diperoleh dengan cara bebuyutan.

Warga kuno sedang sama, tidak terdapat pembedaan sosial, serta lagi kebersamaan warga bertabiat kebersamaan ahli mesin, yang maksudnya badan warga mempunyai satu keyakinan serta jalinan penuh emosi yang serupa. Komunitas kuno tidak memakai tenaga listrik serta lampu, sebab itu mereka fokus menempuh kehidupan dikala siang serta istirahat kala malam.

Identitas Warga Serta Kehidupan Berkeyakinan Warga Primitif

Dalam perihal keyakinan ataupun agama, mereka mengarah animisme ialah beriktikad keyakinan yang sudah dianut oleh leluhurnya terlebih dulu.

Keyakinan yang amat kokoh itu membuat warga kuno acapkali kekeuh ataupun ajeg, mereka tidak mau melanggar keadaan yang telah jadi hukum ataupun adat istiadat nenek moyangnya. Selanjutnya sebagian karakteristik serta pemikiran keimanan yang terdapat pada warga primitif.

Pemikiran Mengenai Alam Semesta

Mereka mengangap alam sarwa bagaikan poin. Yak benar, alam dimaknai seakan mempunyai jiwa, berpribadian serta bertabiat perorangan.

Misalnya, kala terjalin dentuman gunung berkobar, warga kuno menyangka kalau si penguasa gunung lagi marah. Mereka menjawab insiden itu merupakan dengan berikan sesajen serta melangsungkan ritual, tujuannya buat meredakan si penguasa gunung.

Menyangka Bertuah Subjek, Tempat serta Benda Karakteristik lain keber- agama- an kaum kuno yakni, gampang mengkeramatkan barang serta subjek khusus. Ilustrasi, memandang bertuah suatu yang berikan kemanfaatan, kebaikan atau bencana.

Contoh, kala terdapat yang menaiki tempat bermukim terkini, kemudian berjarak setelah itu penunggu rumahnya terserang penyakit.

Mereka berpikiran kalau pemicu sakit penunggu rumah sebab akibat mahluk lembut yang bermukim di rumah mereka, mereka langsung berinisiatif membuat satu ritual khusus, yang tujuannya mengusir insan lembut itu, supaya esoknya tidak terdapat lagi yang tersendat. Prakteknya umumnya dengan melayankan sesajen.

Hidup Warga Serba Magis

Karakteristik lain warga ataupun komunitas kuno ialah, senang menghubung hubungkan sesuatau dengan keadaan abnormal. Terdapat keadaan yang tidak dapat dipaparkan yang terjalin, kaum kuno mengaitkannya dengan perihal yang sihir.

Bagi teorinya Comte, masyarakat ini sedang terdapat pada langkah dongeng. Maksudnya, warga yang pada hidupnya senantiasa mengubungkan seluruh suatu dengan keadaan sihir.

Penuh Dengan Upacara-Upacara Keagamaan

Terakhir, karakteristik hidup mereka merupakan kerap diadakannya seremoni keimanan. Contoh, di durasi tiba masa panen, komunitas ini tidak menyangka angin kemudian perihal itu. Mereka beriktikad kalau bidadari antah yang membantunya.

Oleh sebab itu, kala masa panen tiba, disediakanlah sesajen yang spesial dipersembahkan buat bidadari sri ini, bagaikan wujud serta rasa terimakasih kepadanya. Sedang apakah ada masyarakat Kuno? Spesialnya di Indonesia? Kemajuan ilmu serta wawasan yang sedemikian itu cepat, mencadangkan sedikit ciri pertanyaan, ialah.

Sedang apakah ada kaum kuno di era saat ini ini? Spesialnya di Indonesia Tanggapannya Iya serta tidak. Aku ragu, apa alasannya? Sebab masyarakat yang betul- betul terasing, mulai terbuka dengan pergantian, gelar kuno juga rasanya telah tidak cocok serta benar. Lebih pas bila memakai sebutan warga adat.

Bila Kamu jalan- jalan ke wilayah terasing, Kamu hendak menciptakan realitas kalau kanak-kanak dari komunitas adat mulai berpelajaran seperti kanak- kanak lazim. Ini terjalin sebab, hutan tempat mereka bersembunyi serta mencari materi santapan dirusak, setelah itu ditukar dengan kelapa sawit (dimiskinkan). Buat dapat bertahan hidup, mereka dituntut berganti, jadi bagian dari masyarakat modern, dengan seluruh permasalahannya.

Renungan

Walaupun masyarakat kuno hidup amat simpel serta penuh dengan narasi dongeng, tetapi mereka terbebas dari bermacam permasalahan yang dirasakan warga perkotaan yang tuturnya modern.